Sahin Demir
05 Juni 2026•Update: 05 Juni 2026
Iran menyatakan sedikitnya 50 persen asetnya yang dibekukan harus segera dicairkan setelah penandatanganan kemungkinan nota kesepahaman dengan Amerika Serikat, kata seorang pejabat senior Kementerian Luar Negeri Iran.
Kazem Gharibabadi, wakil menteri luar negeri Iran urusan hukum dan internasional, mengatakan kepada kantor berita semi-resmi Mehr bahwa berbagai mekanisme sedang dikaji untuk memastikan akses Teheran terhadap dana yang diblokir berdasarkan kemungkinan kesepahaman dengan Washington.
"Minimal, Republik Islam Iran menegaskan bahwa 50 persen dari dana tersebut harus segera tersedia bagi Iran setelah penandatanganan nota kesepahaman," kata Gharibabadi.
Ia menambahkan bahwa sisa dana harus dicairkan dalam jangka waktu yang dianggap wajar oleh Teheran, "tidak lebih dari satu atau dua bulan."
Gharibabadi mengatakan Iran hanya akan menganggap sebuah teks sebagai final jika kepentingannya tercermin sepenuhnya, termasuk apa yang disebutnya sebagai penghentian segera dan permanen perang di semua front, termasuk Lebanon.
Ia mengatakan isu penting lainnya adalah pencabutan apa yang digambarkan Teheran sebagai blokade maritim.
Pejabat itu mengatakan Qatar dapat berperan dalam memfasilitasi akses Iran terhadap aset-aset yang dibekukan melalui mekanisme alternatif, sementara Washington mengambil langkah untuk mencabut pembatasan atas dana tersebut.
Ia menegaskan bahwa mekanisme alternatif apa pun tidak akan menghapus tanggung jawab AS untuk mencairkan aset Iran yang diblokir berdasarkan rancangan kesepahaman tersebut.
Menurut Gharibabadi, rancangan saat ini, yang belum final, mewajibkan AS mencairkan seluruh sumber daya keuangan Iran yang dibekukan sejalan dengan kemajuan perundingan.
Ia mengatakan proses tersebut tidak boleh melebihi 60 hari.
Gharibabadi juga mengatakan pencabutan seluruh sanksi sepihak AS, termasuk sanksi primer dan sekunder, serta normalisasi status Iran di Dewan Keamanan PBB dan Dewan Gubernur Badan Energi Atom Internasional (IAEA), termasuk di antara tuntutan utama Teheran.
Ketegangan regional meningkat sejak akhir Februari setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran. Gencatan senjata yang dimediasi Pakistan mulai berlaku pada 8 April, sementara kontak tidak langsung mengenai kesepahaman yang lebih luas terus berlanjut.