Tarek Chouiref
02 Juni 2026•Update: 02 Juni 2026
Hizbullah menegaskan tidak akan mematuhi gencatan senjata secara sepihak di Lebanon selama Israel masih melanjutkan serangannya, di tengah upaya diplomatik untuk meredakan konflik yang terus berlangsung.
Anggota parlemen Hizbullah Hassan Fadlallah mengatakan pada Senin bahwa tidak ada gencatan senjata yang hanya dipatuhi satu pihak yang akan bertahan di Lebanon. Ia juga menegaskan bahwa tidak akan ada “kembali” ke kondisi yang berlaku sebelum 2 Maret.
Dalam wawancara dengan stasiun televisi Al-Manar yang berafiliasi dengan Hizbullah, Fadlallah mengatakan posisi Lebanon saat ini berfokus pada gencatan senjata menyeluruh “di darat, udara, dan laut” sebagai langkah yang diperlukan untuk mendorong penarikan pasukan Israel dan memungkinkan warga yang mengungsi kembali ke desa-desa mereka.
Ia mengatakan posisi tersebut telah disampaikan kepada semua pihak dan harus mencakup komitmen Israel yang “jelas dan tegas”, termasuk penghentian penghancuran rumah-rumah di Lebanon selatan.
Fadlallah menambahkan bahwa Hizbullah akan mematuhi setiap kesepakatan setelah Israel berkomitmen terhadapnya. Namun, ia menegaskan kelompok itu tidak akan menerima penerapan gencatan senjata yang hanya dipatuhi oleh satu pihak.
Menurut Fadlallah, tekanan Iran serta ancaman untuk menghentikan perundingan turut berkontribusi mengubah arah perkembangan situasi.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pada Senin bahwa Israel dan Hizbullah telah sepakat menghentikan serangan satu sama lain setelah adanya kontak melalui perantara.
Trump mengatakan dirinya telah melakukan komunikasi melalui perantara dengan kedua pihak dan menerima jaminan bahwa “seluruh penembakan akan dihentikan.”
Israel terus melancarkan serangan ke Lebanon meskipun gencatan senjata mulai berlaku pada 17 April dan kemudian diperpanjang selama 45 hari setelah perundingan tidak langsung yang dimediasi Amerika Serikat.
Menurut Kementerian Kesehatan Lebanon, lebih dari 3.400 orang telah tewas dalam serangan sejak 2 Maret.